KU BERPIJAK PADA BUMI YANG TAK SEHARUSNYA SALAH

KU BERPIJAK PADA BUMI YANG TAK SEHARUSNYA SALAH

 Ratusan tahun silam

Tumpahan darah bersimbah geram

Nyawa melayang dan tertanam

Para tangan mengepal geram

Berjuang, berjuang, berjuang

Udara membelah oleh semangat, berjuang!

 

Tujuh puluh tahun yang lalu

Romantisme perjuangan menyapa tumpahan darah

Senyum terumbar untuk sebuah perjuangan

Tak terlena tapi terus mengepal tangan

Merdeka, merdeka, merdeka,

Udara membelah oleh semangat, Merdeka!

 

Indonesiaku tercinta

Bhinneka Tunggal Ika semboyanmu

Pancasila landasanmu

Kami berdiri di bumimu,

Ibu Pertiwi

 

Oh Ibu Pertiwi,

Sungguh indah semboyanmu

Sungguh adil landasanmu

Tapi dimanakah keindahan dan keadilan?

Ugamokku do naparjolo di hutakkon

Jala oppungku dohot do diparporangan I

Alai boasa gabe au dipasiding?

 

Kenapa agamaku dipertanyakan?

Kenapa keyakinanku dipersoalkan?

Bukankah itu hakku?

Amanah dari semboyan ibu pertiwi

 

Ya, ini istanaku

Bak berdiri di blantara aungan nafsu

Mulutku seperti tersumpal

Pijakanku tak bebas melambung

Bahkan tubuhkupun seolah milik mereka

Aku diatur diatur karena aku perempuan

 

Ooh Tuhan, aku beralaskan sandal jepit diulur

Ahaha, aku dengan tangan berlapis…

Yaa, secepat kilat!

Integritas penguasa!

 

Hm,

negara berdaulat

taat hukum

mengakui hak asasi manusia

menghargai perbedaan

menjunjung keadilan

 

Sebuah rajutan yang sempurna

 

Tapi, lihatlah sekelilingmu

Apa yang terjadi?

Terlena…

Hingga Kamu, Dia, Mereka,

Aku berpijak pada bumi yang tak seharusnya salah

Saksikan disini ya!

FORUM INDONESIA MUDA 17 (FIM 17)

MERAIH MAKNA MEMBAGI RASA

IMG_7594

            “Hatta Muda! Hatta Muda! Hatta Muda!” Dua kata yang selalu diulang itu terus bergeming memenuhi semesta Taman Wiladatika, Cibubur pada beberapa minggu yang lalu.

***

DSC_0060
RHENALD KASALI

Adalah kebanggaan bagi semua peserta Forum Indonesia Muda, menjadi bagian dari sejarah perjalanan Forum bergengsi itu di Indonesia. Diseleksi dari ribuan orang, hingga tersebutlah 151 orang yang dianggap layak mewakili kampus dan daerah masing-masing di Indonesia untuk berproses bersama; berbagi dan menciptakan wawasan, pengalaman, jaringan, inspirasi, persaudaraan, bahkan cinta. Tepatnya, proses yang hikmat itu berlangsung pada 29 april hingga 3 Mei 2015 di Taman Wiladatika, Cibubur-Jakarta.

Forum Indonesia Muda 17, atau FIM angkatan 17 ini mengusung tema “Bung Hatta Teladan Beta”. Tema ini saya anggap sangat pas melihat kondisi bangsa kita saat ini. Betapa kita seperti kehilangan panutan, kita seperti diombang-ambingkan harus meneladani siapa, kita seperti disuguhi sosok-sosok yang kita anggap baik tetapi kata aparat mereka tidak baik. Lihat saja Bapak Abraham Samad, Bambang Widjoyanto, Novel Baswedan, dan lain-lain. Kepada mereka tampaknya kita telah menggantungkan harapan, tetapi entah siapa yang selalu mencoba mengusik kita, ingin mengumandangkan bahwa mereka sama sekali tidak ada baiknya, kita dibingungkan. Maka, menghidupkan kembali sosok Bung Hatta melalui FIM 17, rasanya benar-benar membawa kita pada satu keyakinan, bahwa ada sosok yang patut diteladani. Dan kepada mereka yang terzolimi, kita berdoa semoga kebenaran segera menampakkan diri dan kita tetap pada optimisme mencapai cita menjadi Indonesia.

DSC_0073
PESERTA FIM 17 (SABANG-MERAUKE)

Pelatihan kepemimpinan dan Character building melalui Forum Indonesia Muda yang berlangsung lima hari itu benar-benar mampu menciptakan sebuah refleksi pribadi. Melalui materi-materi dan pemateri, peserta digiring pada sebuah pertanyaan “Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?”

Hari pertama, FIM17 dibuka dengan forum kebangsaan. Ibu Meutia Hatta, anak sulung Bung Hatta hadir memberikan sambutan yang hangat pada semua peserta, membuat acara pembukaan FIM 17 semakin berhikmat. Pemateri yang hadir dalam forum ini bukan orang biasa, ada Bapak Taufik Hanafi, Ibu Ina Hagniningtyas Krisnamurthi, Bapak Gatot Trihargi, dan Bapak Mayjen TNI Hari Mulyono. Satu per satu bercerita tentang MEA dari latar belakang masing-masing.

Untuk menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) akhir tahun 2015 ini, peningkatan kualitas sumber daya mutlak dilakukan, terutama melalui pendidikan.      Di dalam transaksi yang mengglobal, kemampuan menguasai bahasa adalah mutlak, yaitu seminimal mungkin menguasai bahasa internasional, seperti Bahasa Inggris. Wawasan kebangsaan juga harus ditingkatkan untuk menghadapi MEA, hal ini penting untuk mengetahui potensi-potensi yang kita miliki, jangan sampai malah orang luar yang lebih mengetahui potensi Indonesia. Selain kualitas sumber daya manusia, lembaga-lembaga pemerintahan juga harus mendukung kesiapan masyarakat terhadap penyatuan perekonomian se-Asia Tenggara itu, misalnya peningkatan peran lembaga keuangan mengembangkan UMKM.

Setelah FIM 17 dibuka secara resmi melalui forum kebangsaan, maka rangkaian acara yang penuh inspirasi dan kreatifitas itupun tak sabar untuk dimulai.

Forum Indonseia Muda memiliki 7 pilar kepemimpinan, mengenal diri, komunikasi, akhlak, kekuatan belajar, proses pengambilan keputusan, manajerial, dan pengorganisasian, dan 7 pilar karkarakter, yakni cinta kasih, integritas, kebersahajaan, totalitas, solidaritas, keadilan, dan keteladanan; karakter itu semua diinternalisasikan dalam setiap materi-materi yang disampaikan.

Pada hari kedua, Bapak Profesor Jimly menyampaikan bahwa krisis integritas telah membuat banyak instansi memecat pegawainya demi menjaga nama baik, maka “kita harus membangun system integritas berdasarkan aturan hukum dan aturan etika, etika bisa dibangun melalui pendidikan agama dan pendekatan structural” ungkapnya. Pada hari kedua ini semangat nasionalisme peserta dibakar lagi dengan kehadiran bapak Bambang Widjayanto, wakil ketua KPK non aktif. Ia menegaskan bahwa Indonesia lahir dari mimpi-mimpi para pemuda, sehingga “seharusnya pemuda tidak perlu takut mati apalagi sekedar demo” Tegasnya.

Seperti sudah direncanakan dengan matang, tidak tanggung-tanggung untuk menginspirasi, panitia FIM 17 menyuguhkan peserta lagi dengan bapak Prof Rhnenald Kasali, P.hD. Menurut bapak Rhenald, perjalanan hidup ditentukan oleh sikap driver yang ada pada diri masing-masing orang. “Kita harus memaksimalkan potensi diri, if you can drive yourself, so you can drive others and may drive your organizations. Drive yourself!” Pungkasnya. Selain pemateri-pemateri lain yang luar biasa, ada sosok pemateri yang unik, menunjukkan totalitas dalam berkarya dan berinovasi yang menurut saya akan membawa mimpi menjadi Indonesia yang canggih dan mandiri secara teknologi di masa depan. Ia adalah Ricky Elson, belajar di Jepang dan mampu membuat mobil listrik lalu kembali ke Indonesia. Teman-teman mungkin masih mengingat mobil hijau Dahlan Iskan yang pernah kecelakaan saat uji coba, itu adalah karya mas Ricky. Menurutnya, itu adalah langkah awal menuju kesempurnaan, asa terus berani dan ulet mencoba dan berinovasi.

Pada hari keempat, semua peserta disuguhkan dengan materi yang menjadi dasar dari semua niat dan karya, yaitu kembali pada diri sendiri. Bagaimanapun, untuk memulai sesuatu, kita harus mengenali lebih dahulu diri kita sendiri. Potensi yang dimiliki, kelemahan yang dimiliki yang semuanya itu akan menjadi amunisi semangat berkarya dan berinovasi. “Kita adalah pemenang, setiap orang harus dihargai atas keunikan masing-masing yang dimiliki” ungkap Bunda Elly Risman, pemateri pada hari keempat.

Banyak pemteri-pemateri yang menunjukkan diri mereka akan teladan bung Hatta, seperti alumni-alumni FIM pendiri kampung sarjana, Muhammad Ihsan, pendiri volunteer doctors Dr. Dani Ferdian, Direktur PT. HijUp.com Diajeng Lestari, dan lain-lain yang sangat inspiratif.

Salah satu keunikan acara FIM yang punya jargon “Aku Untuk Bangsaku” itu adalah setiap memasuki sesi, peserta disambut dengan music-musik disco yang mencairkan adrenalin, membuat semua anggota tubuh bergerak dengan semangat dan siap untuk menyerap berbaga materi.

Pada hari terakhir, peserta diajak untuk kegiatan outdoor, yaitu outbound. Kegiatan ini seperti menguji kekompakan setiap peserta yang baru berkenalan empat hari yang lalu, mengajak semua peserta untuk mengimplementasikan materi-materi yang diterima selama empat hari. Semua peserta yang dibagi ke dalam kelompok-kelompok sangat antusias menikmati rangkaian permainan yang menguji nyali, kreatifitas dan kepemimpinan.

Sebuah event kepemudaan yang sangat inspiratif dan akademis, sangat bangga menjadi bagian dari sejarah perjalanan Forum Indonesi Muda. Yang mana setelah mengikutinya, muncul gejolak dalam bantin bahwa “aku tidak mau jadi penonton atau penumpang, aku harus beraksi dan menjadi driver, untuk Indonesia. Jaya selalu Indonesiaku!!

DAKWAH-MISI: TOLERANKAH?

Berdakwah-bermisi adalah sebuah perintah keagamaan yang secara sekilas tampak sebagai perintah yang tidak menjunjung toleransi. Dalam agama Islam, dakwah secara sederhana menginginkan agar setiap orang mengakui kebenaran Islam. Demikian halnya, dalam agama Kristiani, misi secara sederhana menghendaki agar semua bangsa menjadi murid Yesus. Namun jika dipelajari lebih dalam, Islam juga mengakui dan meminta para umatnya untuk menghargai perbedaan, demikian halnya dengan Kristen. Sehingga bagi para umat, tampak seperti dilema, ingin menjalankan perintah agama atau ingin bersikap menghargai perbedaan?

Pilihan tersebut seolah memaksa para umat untuk memilih, berdakwah-bermisi atau menghargai perbedaan. Artinya, ingin berdakwah-bermisi mestinya tidak peduli dengan perbedaan, dan sebaliknya. Hal ini telah membuat banyak umat bingung bahkan konflik dapat terjadi oleh pemahaman yang sekilas pandang ini. Oleh karena itulah, penulis tertarik untuk membahas, sesungguhnya dalam Islam apa yang diharapkan Allah SWT dari berdakwah? Demikian halnya dengan Kristen, benarkah menjadikan semua bangsa menjadi murid Yesus adalah tujuan mutlak misi? Lalu apakah sebenarnya hubungan antara dakwah-misi sebagai perintah agama dengan toleransi? Benarkan mereka yang berdakwah-bermisi telah melanggar sendi-sendi toleransi umat beragama?

DakwahMisi

Sebelum jauh membahas, sekilas penulis terlebih dahulu memaparkan makna dakwah dan misi. Secara harfiah, dakwah diartikan sebagai ajakan atau seruan, yaitu ajakan ke jalan Tuhan (Allah SWT). Pengertian ini merujuk pada 3 asal kata dalam Al Qur’an, yaitu da’a yang dalam Ensiklopedia Islam diartikan sebagai “ajakan kepada Islam. Kata kedua adalah yad’u yang artinya mengajak ke neraka yang pelakunya syaitan, dan kata terkahir da’watan yang diartikan sebagai seruan yang dilakukan oleh para Rasul.

Selanjutnya kata misi secara etimologi berasal dari bahasa Latin “Mito” yang memiliki arti mengutus. Dalam Alkitab perkataan mengutus adalah tentang pengutusan rasul untuk mengabarkan berita keselamatan, yaitu berita sukacita tentang Yesus. Pengutusan ini dikaitkan dengan perintah Yesus, yang disebut dengan Amanat Agung, yang tertulis dalam Matius 28:19-20 “Karena itu pergilah, jadikan semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Secara ringkas misi diartikan sebagai usaha untuk memberitakan Injil, kabar kesukaan tentang Yesus.

Pertanyaannya, mengapa harus melakukan dakwah-misi? Siapa yang dapat melakukannya?

Dari definisi sebelumnya bahwa dakwah adalah seruan ke jalan Allah SWT, maka dakwah adalah perintah agama dalam ajaran Islam. Yusuf Burhanuddin[1] menyebutkan bahwa dakwah adalah kewajiban setiap umat Islam, untuk saling mengingatkan dan mengajak sesamanya dalam rangka menegakkan kebenaran (konteks iman/teologis) dan kesabaran (konteks amal/sosiologis). Berikut ada beberapa ayat Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa setiap umat Islam diwajibkan untuk berdakwah:

Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik” (QS. An-Nahl:125)

“Dan hendaklah ada dari kamu satu umat yang menyeru kepada kabajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran: 104)

Bagaimana dengan misi? Tampaknya tidak ada perbedaan. Bermisi adalah kewajiban bagi umat penganut ajaran Kristus. Dalam definisi sebelumnya, penulis menyatakan bahwa dasar dari misi umat Kristiani adalah sebagaimana tertulis dalam Matius 28:19-20. Jadi, mereka yang mengaku percaya pada Yesus berkewajiban untuk bermisi.

Beberapa ayat dalam Alkitab yang memerintahkan umat Kristiani untuk bermisi sebagai berikut:

“Lalu Ia berkata kepada mereka: “pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. (Markus 16:15-16)

“Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.” (Markus 16:20)

Dengan demikian jelaslah bahwa dakwah dan misi bukan sembarangan kegiatan yang tanpa dasar dan tujuan yang jelas. Kitab suci menjamin kegiatan dakwah-misi sebagai kegiatan yang diwajibkan bagi umat dan merupakan kegiatan yang diberkati Allah.

Dakwah-Misi, Tolerankah?

Namun yang menjadi persoalan adalah realita pluralitas manusia. Manusia yang menjadi subjek sekaligus objek dakwah-misi hidup dalam keberagaman. Bukan hanya dari sisi agama, melainkan suku, ras, bahasa, adat, dan lain sebagainya. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa keberagaman itu seringkali menjadi faktor pendorong terjadinya konflik.

Lalu, bagaimana manusia itu mencoba untuk hidup rukun dalam kemajemukan tersebut? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan satu kata, yaitu toleransi. Manusia memiliki sebuah kata sifat yang dianut dan dipercayai mampu membawa kerukunan dalam kehidupan yang majemuk. Dalam bahasa Arab, istilah “toleransi” disebut tasamuh yang artinya sikap membiarkan, lapang dada; sanakha, tasamakha, lunak, berhati ringan. Pada umumnya toleransi diartikan sebagai pemberian kebebasan kepada sesama manusia dan masyarakat untuk menjalankan keyakinannya atau mengatur hidupnya serta menentukan nasibnya masing-masing, selama di dalam menjalankan dan menentukan sikapnya itu tidak melanggar dan tidak bertentangan dengan syarat-syarat harus terciptanya ketertiban dan pedoman dalam masyarakat (Yewango, 2002: 46-47)[2]. Tidak jauh berbeda, dalam (Muhammad, 2008:104-105)[3] disebutkan secara leksikal kata toleransi adalah “bersabar, menahan diri, membiarkan.”

Sehingga dapat disimpulkan bahwa toleransi yang diyakini umat manusia dapat menciptakan kerukunan adalah dikarenakan sikap toleransi yang sangat sabar untuk menerima perbedaan, membiarkan perbedaan itu ada, menahan diri untuk tidak menuntut persamaan, lapang dada pada perbedaan, berhati ringan atas kebebasan untuk berbeda.

Realitanya, di satu sisi jika manusia meyakini hidup rukun dapat tercipta dengan sikap yang toleran, sementara di sisi lain manusia hidup dengan ajaran agama tertentu yang mewajibkannya untuk berdakwah-bermisi, apakah mereka masih dapat digolongkan sebagai manusia yang toleran? Umat Islam diwajibkan berdakwah agar orang lain mengikut jalan Allah dan umat Kristen diwajibkan bermisi untuk menjadikan segala bangsa menjadi murid Yesus, bukankah itu artinya mereka tidak menerima perbedaan? Tidak menghargai perbedaan?

Nah, memang secara sekilas jika kita mendengar ada orang bermisi-bedakwah cenderung muncul prasangka negatif. Apa yang sering kita dengar terkait dengan hal tersebut adalah isu kristenisasi dan islamisasi. Apakah ini benar? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu kita dalami makna dakwah-misi itu sendiri berdasar pada ajaran Kitab Suci.

Makna dakwah sendiri tidaklah mutlak menyeru dan mengajak orang untuk mengikuti jalan Allah. Karena jika demikian, kesannya kasar dan memaksa (Islamisasi). Padahal adalah mutlak bahwa Allah menciptakan manusia dengan segala perbedaan dan Allah memberikan kebebasan pada manusia untuk memilih segala perbedaan yang Allah ciptakan. Yusuf Burhanuddin[4] menyatakan:

“tujuan dakwah bukanlah untuk memaksakan kehendak, mengislamkan yang lain maupun untuk mempersatukan umat manusia, apalagi untuk memperbanyak pengikut. Karena jika dakwah berarti demikian, niscaya Nabi Nuh as yang diberi usia 950 tahun dalam menggencarkan risalah dakwahnya tidak layak diberi pengharagaan. Karena kurun waktu yang sangat panjang itu ia hanya mampu mengajak manusia seisi penumpang sebuah kapal laut. Kenyatannya beliau tetap dianggap orang istimewa oleh Allah SWT. Lebih lanjut ia menyebutkan bahwa Islam atau tidaknya seseorang bukanlah kepentingan Allah SWT. Konsekuensi dakwah bisa diterima atau ditolak. Urusan beriman atau tidak, itu urusan Allah. Kita tidak dibebani-Nya untuk memaksa apalagi mengimankan seluruh manusia. Tugas kita hanyalah menyampaikan (Tabligh; Q.S. 10:99/28: 56/3:20) dan menjadi bukti kedamaian bagi yang lain (syuhada; Q.S.3 : 110)”

Lalu bagimana kata Al Qur’an pada keberagaman. Ternyata keberagaman tidak menjadi penghalang untuk berdakwah dan umat manusia tetap hidup rukun. Karena dakwah adalah wujud ketaatan (berlomba-lombalah berbuat kebajikan; saling kenal mengenal). Berikut beberapa bukti dalam Al Qur’an yang menyatakan bahwa Allah menciptakan dunia dan isinya dengan berbeda:

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukanNya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu” (QS al Ma’idah [5]:48).

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, suaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha Mengetahui lagi Maha mengenal (segala sesuatu)” [QS al-Hujurat [49]:13)

Jika Al Qur’an menyebutkan dakwah sebagai jalan untuk menyampaikan seruan ke jalan Allah sebagai wujud ketaatan, dan juga mengakui bahwa dunia diciptakan Allah dengan banyak perbedaan, sehingga konsekwensi dakwah adalah mutlak urusan Allah, maka Alkitab juga menyebutkan hal yang persis sama.

Setidaknya dapat dikatakan dasar dari misi dalam ajaran Kristen adalah Amanat Agung yang tertulis dalam Matius 28:19-20. Oleh karena itu ayat ini perlu dipahami dengan sebaik-baiknya. Karena orang Kristen banyak terjebak dalam pemahaman yang keliru memaknai ayat ini.

Di dalam ayat tersebut, ada empat kata perintah, yaitu “pergilah, jadikanlah, baptislah, dan ajarlah.” Banyak orang menafsirkan ayat ini secara mutlak. Dimana mereka yang mengaku percaya pada Yesus pergi kemana saja (sesuai dengan kalimat perintah pertama: “pergilah”). Di dalam kepergiannya, mereka memberitakan berita sukacita sesuai dengan arti misi, untuk menjadikan siapa saja yang mereka beritakan kabar baik menjadi murid Kristus (sesuai dengan perintah kedua: “jadikanlah”. Dua kata perintah yang dimaknai tersebut cenderung terkesan memaksa (Kristenisasi). Lalu dengan cara apa mereka dijadikan sebagai murid? Yaitu dengan dibaptis lalu diajar. Tetapi, hal inilah yang tidak dapat dipahami oleh banyak orang. Bahwa kata perintah ketiga dan keempat merupakan turunan dari kata perintah kedua. Jadi, sebenarnya intinya terletak pada kalimat perintah kedua, yaitu “jadikanlah mereka murid-Ku”.

Pertanyannya, bagaimana menjadikan mereka jadi murid? Nah, untuk menjadikan mereka [yang sudah diberitakan kabar baik] menjadi murid, mereka harus percaya terlebih dahulu dengan kabar baik yang diberitakan. Jika mereka percaya, baru masuk pada kalimat perintah ketiga dan keempat, yaitu baptis lalu ajar. Dan disini setiap orang berhak untuk percaya atau tidak. Intinya, kita sudah melakukan ketaatan sebagai umat Kristen, yaitu mengabarkan kabar baik itu.

Beberapa contoh dalam Alkitab tentang menjadikan orang lain menjadi murid, misalnya dalam Kisah Para Rasul 8:26-40 tentang Sida-Sida dari Etiopia yang dibaptis. Kenapa ia dibaptis? Karena setelah mendengar kabar baik itu, dia percaya maka dia dibaptis. Juga dengan kisah Para Rasul 16:30-33 tentang kepala penjara yang setelah mendengar firman Tuhan lalu memberi diri mereka dibaptis. Yang menarik adalah, setelah mereka dikabarkan Injil, bukan si pekabar yang meminta mereka untuk dibaptis, melainkan mereka sendiri yang memberi dirinya dibaptis. Artinya, setelah si pekabar mengabarkan Injil, ia kemudian diam dan membiarkan orang yang dikabari Injil memutuskan sendiri. Sehingga jelas, bahwa konsekwensi dari misi adalah sepenuhnya urusan Tuhan, bukan manusia. Urusan manusia hanyalah sebatas mengabarkan. Kaitan antara dibaptis dengan murid Yesus adalah bahwa baptisan merupakan salah satu wujud ketataan kepada Yesus dan murid memang harus taat kepada tuannya. Karena hanya muridlah yang taat kepada tuan.

Lalu bagaimana Alkitab berbicara tentang keberagaman? Pada kisah penciptaan, Kitab Kejadian, Allah menciptakan dunia dengan segala isinya dan Ia melihat itu sangat indah. “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam” (Kejadian 1:31). Kemudian lagi Allah menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan karena melihat bahwa tidaklah baik manusia hidup sendirian. Apa artinya bahwa sejak masa penciptaan Allah sudah menciptakan banyak perbedaan, ada hewan dengan berbagai jenis, ada pohon dengan berbagai nama, dan ada manusia yang juga berbeda. Apa yang Allah lihat dari ciptaan yang beragam itu? Ya kebaikan atau keindahan. Betapa indah hidup dalam perbedaan, dengan paduan warna-warni. Semua yang Allah ciptakan adalah untuk kemuliaanNya.

Jikalah dunia ini diciptakan sama, hanya ada bunga mawar merah, bagaimana kita akan mengatakan betapa indahnya taman dengan berbagai macam warna bunga dan bentuk yang beda? Jika kita diciptakan semua sama, apakah jalan kita untuk menunjukkan ketaatan kepada Allah? Bagaimana kita terdorong untuk saling mengenal?

Ketaatan kita pada Allah adalah dengan melaksanakan kewajiban sebagai umat dan menjaga keindahan yang Ia ciptakan melalui keberagaman. Sehingga menurut saya antara dakwah-misi dengan toleransi tidak ada polemik atau permasalahan. Karena dakwah-misi hanyalah wujud ketaatan sebagai umat. Dimana dalam dakwah-misi tidaklah ada unsur pemaksaan yang menuntut persamaan, karena konsekwensi dari dakwah-misi adalah mutlak urusan Allah.

[1] Seorang pegiat Association for Reserach and Islamic Studies, Kairo, Mesir penulis artikel tentang Relevansi Dakwah dan Toleransi Beragama: http://forum35.wordpress.com/2007/01/03/relevansi-dakwah-dan-toleransi-beragama/

[2] Yewangoe. 2002. Agama-Agama dan Kerukunan. Jakarta: Gunung Mulia

[3] Halim, Muhammad Abdul. 2008. Memahami Al-Quran, Pendekatan Gaya dan Tema. Bandung: Marja

[4] Burhanuddin, Loc. Cit

Surat Untuk Bung Hatta

Meringis, Merindu, Mengharap

Kutulis surat ini

Sebagai ungkapan hati yang meringis

Melihat Pertiwi menangis perih

Oleh pejabat yang tak bermanusiawi

Pejabat yang korup

Bahkan membudayakan korup

Pejabat yang kolusi

Bahkan membudayakan kolusi

Pejabat yang nepotisme

Bahkan membudayakan nepotisme

Mereka pejabat yang tak bernurani

Menyaksikan anak neg’ri tak berani bermimpi

Karena ulah mereka membuat seolah tiada mimpi

Mereka pejabat yang tak manusiawi

Menyaksikan ibu pertiwi menangis

Karena banyak masyarakat hidup tanpa diatapi

Hujan, terik menghujam membakar mengapi

Mereka pejabat tersenyum tertawa duduki

Kursi panas tak memandang ke bawah sedikit

Mereka pejabat tak tau etos kerja

Karena mereka tak mengerti makna usaha

Mereka duduk dengan instan

Karena uang penuhi kantong dan hati mereka

Mereka tak tau bagaimana melayani

Padahal mereka duduk di kursi pelayan

Kenapa? Karena mereka duduk tanpa proses

Uang telah mentup mata hati dan system serta hukum

Semua diperjualbelikan

Birokrasi berbelit

Pendidikan dan kesehatan sulit

Infrastruktur menyempit

Kriminalitas melejit

Kemiskinan melilit

Oh, aku merindu ingin mengadu

Pada satu sosok di masa yang lalu

Sang proklamator yang telah berjibaku

Kutulis surat ini untuk mu dan beliau

Ia sederhana paham akan makna harta

Meski berkuasa ia paham makna kekuasaan

Baginya harta adalah yang kesekian

Karena kekuasaan adalah tugas kemanusiaan

Ia hanya punya segerombol harta yang patut diwarisi

Buku-buku yang siap memerangi

Kesederhanaan, keuletan, kegigihan selalu menyertai

Hingga Pusaka berkibar gagah ia tak meninggalkan garis aksi

Drs. Muhammad Hatta,

Indonesia merindu sosokmu

Indonesia bangga memilikimu

Indonesia harus meneladanimu

Andai dirimu masih ada

Andai dirimu masih disini

Kutulis surat ini untukku, untukmu

Harapan bangsa pembawa trend maju

Hatta Muda yang siap berjibaku

Nusantara ini milik kita

Pusaka ini harus kita bentang

Tak peduli siapa yang datang

Bersama kita terjang

Katanya, pejabat itu produk kampus

Katanya, koruptor itu produk kampus

Katanya, orang tak bertuhan itu produk kampus

Katanya katanya katanya ….

Hai kawanku,

Mana idealismemu?

Kita jangan hanya menghujat

Kita jangan hanya orasi

Kita jangan hanya menghina

Kita jangan hanya membandingkan

Kita bisa menciptakan transparansi

Kita bisa berunding

Kita bisa saling mencintai, menghargai

Mari temukan sejatinya dirimu di tanah ibu pertiwi

Negara kita bukan kekurangan orang pintar

Negara kita bukan kekurangan pencipta solusi

Negara kita bukan kekurangan pengkritik

Negara kita bukan kekurangan pencipta karya

Negara kita bukan kekurangan pemilik modal

Mari banyak membaca, beribadah, berpikir terbuka

Mari teladani Hatta

Hai kawanku,…

Pertiwi kekurangan orang yang mau melayani

Pertiwi kekurangan orang yang mau memulai dari dirinya

Pertiwi kekurangan orang yang menghargai karya anak bangsa

Pertiwi kekurangan orang yang tanpa pamrih

Pertiwi kekurangan orang yang mau memaafkan

Pertiwi kekurangan orang yang mau bersama-sama membangun

Pertiwi merindukan keuletan, kegigihan, kesederhaan dan semangat

Hatta Muda,

Pertiwi merindukan dirimu…

Oleh: Martin Rambe (FIM 17)