The Blacklist

Orang-orang jahat yang mendunia. Terorganisasi dengan baik. Bekerja sama dengan pemerintah. Bahkan ada yang menguasai dunia. Imajinasi ini yang diejawantahkan Jon Bokenkamp dalam “The Blacklist”. Imajinasi rasa nyata. Atau memang nyata?

Daftar hitam‘ atau daftar orang-orang jahat di seluruh dunia. FBI meringkus mereka lewat Raymond ‘Red’ Reddington–James Spader, mantan pahlawan Amerika dan menjadi dalang kriminal yang menyerahkan diri ke FBI. Penyerahan diri Red dengan mengatakan, “saya hanya mau bicara dengan Agen Keen”, membuat saya tidak bisa berhenti di episode satu season satu. Misteri apa ini?

Agen Elizabeth Keen–Megan Boone, tampaknya menjadi benang kunci dari semua cerita yang ditulis Jon Bokenkamp ini. Red, pada saat penyerahan dirinya ke FBI mengaku memiliki daftar orang-orang jahat di dunia. Dirinya akan membuka daftar itu dengan dua syarat: kekebalan atas tuntutan kejahatannya dan hanya bersedia bicara dengan Agen Keen. Agen Keen, agen pemula, yang baru saja lulus dari pelatihan di Quantico patut was-was, ada apa antara dirinya dengan Red? Sejak wawancara pertamanya dengan Red di dalam jeruji besi, hidupnya tidak sama lagi.

Jelas Jon Bokenkamp bekerja keras menulis alur cerita film ini. Tayang perdana pada 23 September 2013, season delapan baru rilis di saluran NBC pada 13 November 2020 kemarin. Sebuah perjalanan perjuangan konsistensi untuk tetap berada dalam plot yang direncanakan. Maka tidak heran ketika film ini menjadi kesukaan warga Amerika dan mendapat ulasan positif dari kritikus TV di negeri Paman Sam itu. Saya pun tak sabar memencet ‘lanjut’ ke episode satu season tiga di Netflix setelah tadi sore menuntaskan episode 22 season dua.

Banyak hal yang membuat serial ini memikat. Imajinasi yang dituangkan ke dalam cerita serasa nyata. Masuk akal dan dapat dipertanggungjawabkan.

Salah satu episode yang menarik adalah kisah lembaga adopsi anak. Dasar cerita ini mengacu pada setiap keluarga menginginkan anak, tapi tidak semua rumah tangga dapat memiliki anak biologis. Keinginan inilah yang dimanipulasi lembaga itu. Caranya mereka menculik remaja perempuan untuk dijadikan produsen bayi. Para remaja ini disembunyikan. Dengan teknologi tinggi, mereka dibiarkan hidup dengan tidak sadar. Organ tubuhnya bekerja normal hingga dapat hamil berkali-kali. Bayi yang mereka lahirkan diadopsi keluarga kaya dengan biaya tinggi. Siapa sangka penyumbang sperma untuk semua bayi itu adalah pendiri lembaga yang dulu pernah diadopsi pada usia 7 tahun, namun dikembalikan ke panti asuhan? Jon membuat cerita yang tampak biasa, tapi di luar dugaan dan tetap relevan.

Episode lain–seperti bercerita tentang hari-hari ini, tentang virus mematikan. Seseorang menciptakan virus untuk memusnahkan manusia. Alasannya, bumi telah sekarat karena ulah manusia. Ia ciptakan virus, ia rekrut orang-orang yang mau menjadi pahlawan bumi. Orang rekrutan ini dimasukkan virus lalu diterbangkan ke negara lain. Sekejap ribuan orang terjangkit, dunia menghadapi galur wabah pneumonia. Orang-orang kemudian menggunakan masker dan face shield. Apa bedanya dengan yang kita hadapi hari-hari ini? Jon membuat beberapa cerita tentang virus mematikan dengan plot yang yang berbeda. Dengan virus corona hari ini, imajinasi Jon tampaknya tidak hanya sebatas imajinasi.

Entah apa kepentingannya, semua pelaku kejahatan itu diperoleh Agen Keen dari Red. Red membuka pintu, Agen Keen dan timnya menyelesaikan. Tapi pertanyaan besar Keen pada Red, “Kenapa saya?” tidak pernah mau dijawab Red. Hingga satu per satu tanda mulai tampak, bahwa Red memiliki hubungan dengan orang tua Keen–yang menurut ingatan Keen sudah meninggal karena kebakaran saat usianya empat tahun–dan Keen di masa kecil. Tapi hubungan seperti apa, Red tak pernah mau menjawab. Keen semakin ingin menjauh dari Red setelah mengetahui bahwa pria yang dinikahinya adalah mata-mata Red.

Tetapi yang terjadi, Keen semakin penasaran siapa dirinya, siapa Red, dan apa hubungan mereka, serta peran Red membuka daftar orang jahat dunia, membuatnya tidak bisa lepas dari Red.

Entah bagaimana cerita ini akan berakhir. Saya menulis ini karena merasa akrab dengan karakter Red, Keen, dan Tom–mantan suami Keen, setelah menonton dua season 44 episode. Besok season 3!

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s